Suara adzan Dzuhur baru saja menggemung dari pengeras suara musala sekolah, memecah keriuhan koridor setelah bel istirahat berbunyi. Bagi sebagian besar siswa, panggilan itu adalah tanda untuk bergegas mengambil air wudhu. Namun bagi sebagian lainnya, adzan justru menjadi isyarat untuk mengulur waktu. Sebagai seorang pendidik, pemandangan ini menjadi pergulatan batin yang saya temui hampir setiap hari. Di sudut-sudut lorong, di balik pintu kelas yang terbuka separuh, atau di kantin belakang, selalu ada wajah-wajah muda yang enggan bergerak. Mereka adalah siswa-siswa yang memandang ibadah sholat bukan sebagai sarana ketenangan, melainkan sebagai beban rutin yang membosankan. Alasan mereka beragam, mulai dari lelah setelah pelajaran olahraga, mengantuk, hingga alasan klasik yang dicari-cari hanya untuk menghindari shaf berjamaah.
Pada awal mula mendampingi mereka, ada godaan besar untuk menggunakan ketegasan yang keras—memberikan teguran bernada tinggi atau melayangkan hukuman fisik agar mereka patuh. Namun, saya menyadari bahwa ketakutan hanya akan melahirkan kepatuhan semu. Mereka mungkin akan melangkah ke musala karena takut ditertibkan, tetapi hati mereka tetap tertinggal di luar. Sholat yang dikerjakan dengan terpaksa tidak akan meninggalkan rasa manis dalam jiwa mereka. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk mengambil jalan yang berbeda: jalan pendekatan hati, kesabaran, dan motivasi yang tak putus-putus setiap hari.
Pendekatan ini membutuhkan daya tahan yang ekstra. Setiap hari, saat waktu sholat tiba, saya sengaja tidak langsung berdiri di depan musala. Saya memilih untuk menyusuri koridor, menghampiri tempat-tempat yang kerap menjadi area “persembunyan” mereka. Alih-alih membentak, saya mendekati mereka dengan senyuman dan sapaan yang hangat. “Nak, sholat itu bukan ujian matematika yang harus kamu takuti,” ujar saya pada suatu siang kepada sekumpulan siswa yang melamun di tangga musala. “Sholat adalah jeda. Tempat kita meletakkan seluruh rasa lelah dari pagi hingga siang ini di hadapan Tuhan.”
Kadang kala, motivasi yang saya bagikan berbentuk cerita pendek tentang bagaimana sholat mampu melapangkan pikiran yang kusut. Di hari lain, saya cukup menepuk bahu mereka pelan sambil berbisik, “Yuk, mumpung masih diberi kesempatan bernapas dan berdiri tegak hari ini. Tuhan sedang menunggu cerita kamu di sajadah.” Tentu saja, perubahan tidak terjadi dalam semalam. Pada minggu-minggu pertama, penolakan halus masih sering saya terima. Ada siswa yang menyengir kuda lalu menghindar, ada yang berjalan sangat lambat seolah kakinya terikat beban berat, dan ada pula yang berwudhu sekadar untuk menggugurkan kewajiban tanpa kesungguhan. Ada saat-saat di mana rasa lelah menghampiri pikiran saya, memunculkan pertanyaan apakah usaha harian ini benar-benar membuahkan hasil. Namun, saya percaya pada kekuatan konsistensi dan ketulusan. Seperti tetesan air yang terus-menerus menimpa batu keras, perhatian dan pengingat yang disampaikan dengan kasih sayang perlahan-lahan mulai mengikis resistensi di dalam dada mereka.
Bulan demi bulan berlalu, dan keajaiban kecil itu mulai menampakkan wujudnya secara perlahan.
Perubahan pertama terasa dari hal-hal sederhana. Saya tidak lagi perlu mengelilingi seluruh sudut sekolah untuk mencari mereka. Ketika adzan berkumandang, langkah kaki mereka yang dulu berat mulai terangkat secara alami. Sikap menghindar berganti menjadi kesadaran mandiri.
Hingga suatu hari, sebuah momen haru tercipta di musala sekolah. Saya datang sedikit lebih lambat karena harus merapikan berkas di ruang guru. Saat melangkah masuk ke pintu musala, pandangan saya tertuju pada barisan shaf paling depan. Di sana, duduk rapi siswa-siswa yang beberapa bulan lalu menjadi “langganan” untuk saya panggil dan motivasi di koridor. Mereka sedang duduk tenang, merapikan sarung, dan menantikan ikamah dengan wajah yang jernih setelah dibasuh air wudhu. Tidak ada lagi wajah cemberut atau lirikan mata yang mencari celah untuk melarikan diri. Raut wajah mereka berganti menjadi ketenangan yang autentik.
Menyaksikan transformasi tersebut melahirkan rasa syukur yang mendalam di dalam dada saya. Perjalanan ini mengajarkan satu hal berharga: bahwa kemalasan anak-anak dalam beribadah sering kali bukan karena mereka membenci perintah Tuhan, melainkan karena mereka belum memahami keindahannya. Peran kita sebagai pembimbing bukanlah menjadi hakim atas kekurangan mereka, melainkan menjadi jembatan yang menghubungkan hati mereka dengan Sang Pencipta melalui keteladanan, kehangatan, dan kesabaran tanpa batas.





Tinggalkan Balasan