Catatan ke 2 Kedai Spirit
Minggu lalu saat bersalaman pagi dengan seorang siswa, saya mengajaknya mengobrol di teras kantor. Bagaimana kabarmu? Begitu saya mengawali percakapan. Anak ini belum bisa membaca. Sekedar tahu, ada 15 anak di SMPN 1 Bringin yang belum bisa membaca. Diantaranya, ada 3 anak yang sama sekali belum bisa baca. Huruf saja belum hafal. Saya undang guru les baca. Setiap hari selama 80 menit, 15 anak ini diajari membaca. Alhamdulilah setelah 1 bulan, ada 4 anak dinyatakan lancar membaca.
Kembali pada anak yang saya ajak ngobrol tadi. Menurut laporan guru, anak ini diajak belajar membaca sering menolak. Dia harus dirayu-rayu, dan sedikit dipaksa. Padahal semester depan dia harus menghadapi TKA dan Asesmen Akhir Jenjang. Saya tanya “Bagaimana membacanya? Sudah bisa?” Dia tidak menjawab. “Menurut laporan kamu menolak ya, diajak belajar membaca? Mengapa?”
Dia diam, kemudian menjawab pelan. “Malu pak? ” Jawabnya. “Mengapa harus malu? Mas saya itu membayangkan, kalau kamu tidak bisa membaca. Saat kamu besuk menikah, kamu ijab qobul. Saat itu acara didesain bagus. Foto grafer siap mendokumentasikan momen bersejarah itu. Juru kamera siap mengabadikan acara demi acara. Saat kamu diminta penghulu untuk bertanda tangan di buku nikah, kamu kebingungan. Di mana harus tanda tangan? Saat kamu diminta membaca sighot taklik, kamu diam. Karena kamu tidak bisa membaca. Kamu malu atau tidak? “
“Mas…., sekolah ini peduli dengan masa depanmu. Mengapa kamu tidak peduli dengan masa depanmu sendiri?”
Percakapan itu mengingatkan saya bahwa persoalan pendidikan bukan semata-mata terletak pada kemampuan anak. Ada persoalan lain yang lebih mendasar, menumbuhkan kesadaran agar anak mau belajar dan peduli terhadap masa depannya sendiri.
Anak yang suka balap liar, karena dia tidak peduli pada keselamatan diri sendiri. Anak yang kecanduan minum minuman keras, karena kurang peduli pada kesehatan badannya. Anak yang susah diajak belajar, karena ia tidak peduli pada masa depannya
Sebagai pendidik tugas kita tidak sekedar mengajar kompetensi keilmuan tetapi juga membimbing karakter kebaikan, yang diataranya karakter peduli dan empati. Sekolah sudah menyediakan guru. Waktu belajar sudah disiapkan. Pendampingan juga sudah dilakukan. Namun, semua itu akan sulit mencapai hasil terbaik apabila anak belum memiliki kesadaran tentang pentingnya belajar bagi kehidupannya.Tugas kita bukan sekadar mengantarkan anak menguasai kompetensi keilmuan. Kita juga memiliki tanggung jawab untuk membimbing mereka agar tumbuh menjadi manusia yang baik.
Pendidikan harus membantu anak tumbuh secara utuh, baik pengetahuan, keterampilan, maupun karakternya. Namun, membimbing karakter tidak bisa dilakukan secara instan. Kita tidak bisa berharap anak langsung berubah hanya karena sekali dinasihati. Tetapi kita tidak boleh cepat menyerah ketika anak belum menunjukkan perubahan seperti yang kita harapkan.
Membangun kepedulian membutuhkan kesabaran, ketelatenan, dan keseriusan. Kadang-kadang, kita harus mengingatkan berkali-kali. Hari ini anak belum mau mendengarkan. Besok ia masih mengulangi kesalahan yang sama. Lusa atau bulan depan, mungkin ia baru mulai memahami. Hal ini adalah sesuatu yang biasa dalam mendidik. Kita harus yakin, selama kita berbuat untuk mendidik, suatu saat perubahan mesti akan terjadi. Yakin, proses tidak mengkianati hasil.
Tugas kita bukan sekadar menuntut mereka berubah, melainkan membantu mereka menemukan alasan untuk berubah dan mendampingi mereka selama proses itu berlangsung. Saya ingin ia bisa membaca. Bukan semata-mata agar ia mampu mengikuti ujian, tetapi agar ia memiliki bekal yang lebih baik untuk menjalani kehidupannya. Saya ingin ia memahami bahwa belajar bukan hukuman. Belajar adalah kesempatan untuk mempersiapkan masa depan.
Dan saya berharap, suatu saat nanti, ia tidak lagi belajar karena dipaksa oleh gurunya, tetapi karena menyadari bahwa dirinya berharga dan masa depannya layak diperjuangkan.
Barangkali inilah salah satu makna terdalam dari pendidikan, membantu anak menyadari bahwa ia memiliki tanggung jawab terhadap dirinya sendiri, sekaligus menumbuhkan kesediaan untuk berbuat baik kepada orang lain. Kita mendidik bukan hanya agar anak tahu mana yang benar, tetapi juga agar ia mau melakukan kebenaran. Bukan hanya agar anak memahami arti kepedulian, tetapi juga agar ia terbiasa hidup dengan kepedulian. Karena itu, mari kita rawat kepedulian dalam diri anak-anak kita. Kita mulai dari hal sederhana, dari diri sendiri, lalu meluas kepada orang lain dan lingkungan.
Memang tidak mudah, membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketelatenan. Inilah makna pengabdian kita sebagai pendidik. Bagaimana menurut anda?
Senyum hangat dari Kedai Spirit.





Tinggalkan Balasan